Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • rofskm 1:52 pm on June 22, 2010 Permalink | Balas
    Tags: alinda_arch@yahoo.co.id, meyliana.skm_titin@yahoo.com, oktovianti_pratiwi@ymail.com,   

    TUPOKSI BIDANG-BIDANG GSI (GERAKAN SAYANG IBU) 

    TUPOKSI BIDANG-BIDANG GSI

    1. A. BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT :
    • Menggerakkan seluruh komponen masyarakat dan potensi yang ada guna berpartisipasi aktif dalam merealisasikan tujuan Revitalisasi GSI, terutama pada aspek penurunan AKI dan AKB.
    • Menghimpun, menggerakkan, menyediakan dan memanfaatkan sumberdaya baik yang berasal dari Pemerintah Kabupaten maupun masyarakat secara efektif untuk kegiatan percepatan penurunan AKI dan AKB.
    • Pengorganisasian Dasolin/Tabulin.
    • Pengorganisasian Ambulan Desa.
    • Pengorganisasian Penghubung/Liason.
    • Memfasilitasi pelaksanaan Revitalisasi GSI di Tingkat Desa.
    • Melakukan optimalisasi peran forum-forum yang ada di masyarakat, yang bermuara pada penguatan Revitalisasi GSI.
    • Menggalang seluruh potensi yang ada di masyarakat untuk mengembangkan Desa Siaga P4K serta dukungan-dukungan atas realisasi pesan-pesan kunci Revitalisasi GSI.
    1. B. BIDANG KRP (KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN)
    • Pencegahan dan pengaturan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD).
    • Kehamilan dan pelayanan persalinan yang aman, dan rujukan efektif.
    • Pelayanan, penanganan dan pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS) serta HIV dan AIDS.
    • Promosi Praktek Kesehatan yang positif, seperti kehidupan seks yang aman (Save seks), inisiasi menyusui dini (IMD), ASI Ekslusif 6 bulan, Gizi berimbang.
    • Pencegahan praktek kekerasan dibidang kesehatan seperti kurangnya makanan dan pemeliharaan kesehatan bagi remaja putri daripada remaja putra dan kekerasan bagi perempuan.
    • Peningkatan kualitas perempuan, kesehatan perempuan, pencegahan kematian Ibu Hamil, Ibu melahirkan dan nifas, kematian bayi baru lahir dan anak, kesehatan reproduksi, dan wajib belajar 9 tahun bagi perempuan.
    • Pengorganisasian donor darah.
    • Pengorganisasian Pondok Sayang Ibu (PSI).
    • Pengorganisasian kemitraan dukun bayi dan bidan
    • Mengumpulkan data ibu hamil, bersalin dan nifas.
    1. C. BIDANG KIE DAN ADVOKASI
    • Memperkenalkan visi, misi dan muatan program revitalisasi GSI kepada kelompok potensial di masyarakat.
    • Mempersiapkan pemeran yang bisa berpartisipasi dalam pelaksanaan Program Revitalisasi GSI.
    • Menyusun komitmen dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) implementasi Revitalisasi GSI.
    • Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing instansi, organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan.
    • Menyebarluaskan informasi serta melakukan penyuluhan tentang upaya percepatan penurunan AKI dan AKB kepada masyarakat.
    • Pengorganisasian warga siaga dan suami siaga.
    • Penyuluhan pada TOMA, TOGA dan keluarga ibu hamil tentang pentingnya peningkatan kualitas perempuan.
    • Penyuluhan tentang kesehatan perempuan, pencegahan kematian ibu, Kematian Bayi, ASI Eksklusif, kesehatan reproduksi dan wajib belajar bagi perempuan.
    1. D. BIDANG MONITORING DAN EVALUASI
    • Mengelola, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan GSI.
    • Melaksanakan kegiatan monitoring Posyandu secara berkala dan berkesinambungan.
    • Mengevaluasi fungsi peran dan kontribusi pemeran-pemeran yang mendukung dan berpartisipasi dalam menggerakkan, memobilisasi dan melakukan proses pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan sistem antisipasi dan penanganan kegawatdaruratan untuk ibu hamil dan bersalin.
    • Menganalisis potensi pengembangan program Revitalisasi GSI, yakni pada isu-isu strategis dan program inovatif.
    • Evaluasi keberlangsungan forum-forum yang sedang dan dapat berkontribusi untuk pembahasan muatan program Revitalisasi GSI di Tingkat Kecamatan dan Desa.
    • Pertemuan Evaluasi secara berkala dengan pihak-pihak pelaksana program di Tingkat Kecamatan untuk melihat tantangan dan solusi program jangka pendek dan jangka panjang.
    • Evaluasi dan monitoring efektivitas program sekaligus memetakan perkembangan program dan grade perkembangan program di Tingkat Kecamatan dan Desa.
    • Melaksanakan monitoring dan Evaluasi pelaksanaan operasional GSI serta menyampaikan laporan, secara berkala kepada Pokjatap GSI Kabupaten.
     
  • rofskm 7:34 am on June 22, 2010 Permalink | Balas  

    Demam Tifoid
    1. Definisi Demam Tifoid
    Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii, sifatnya sangat menular dan diakibatkan adanya kontak dengan sumber penularan, diantaranya dapat melalui makanan dan air yang tercemar (Syarurahman, 1994).

    2. Etiologi dan Patogenesis Demam Tifoid
    Etiologi demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhii. Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh Salmonella enteridis bioserotip paratyphi A dan paratyphi B. Typhii berasal dari bahasa Yunani yang berarti asap, karena terjadinya penguapan panas tubuh serta gangguan kesadaran disebabkan oleh demam yang tinggi (Syarurahman, 1994). Salmonella typhii ini digolongkan ke dalam famili Enterobactericeae, dengan cirri morfologi tampak sebagai kuman berbentuk batang, tidak berspora, pada pewarnaan gram bersifat gram negatif (Robins, 1995).
    Makanan dan minuman yang terkontaminasi merupakan mekanisme transmisi kuman Salmonella typhii. Salmonella typhii bisa berada dalam air, debu, es, sampah kering, yang bila organisme ini masuk ke dalam media yang cocok (daging, kerang dll) akan berkembang biak mencapai dosis efektif (Kamm, 1991; Udaya, 1994).
    Patogenesis kuman Salmonella typhii masuk tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan di asam lambung dan oleh pH yang rendah, hal ini tentu saja akan mengurangi jumlah bakteri yang hidup. Kebanyakan Salmonella typhii hancur dengan cepat pada pH 2 (Gerald, 1990). Maka dari itu untuk beberapa orang yang menderita achlorhydria, gastrectomi, gastroenterostomy, vagotomy, tidak lagi mempunyai organ pertahanan seperti pada orang normal, sehingga pada orang yang menderita penyakit tersebut akan memudahkan perkembangbiakan bakteri yang tidak terkendali (Cyril, 1957; Kamm, 1991). Bakteri yang masih dapat bertahan hidup masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyer di ileum terminalis yang mengalami hypertrophy. Di tempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella typhii kemudian menembus ke lamina propria, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesenterial, yang juga mengalami hypertrophy. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini, Salmonella typhii masuk aliran darah melalui ductus thoracicus. Kuman-kuman Salmonella typhii lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus (Udaya, 1994); Slamet, 2001). Salmonella typhii bersarang di plaque peyer, limpa, hati dan bagian-bagian lain system retikuloendotelial (sumsum tulang, ginjal) (Wyngaarden, 1992; Robins, 1994). Salmonella typhii segera difagositoleh sel-sel mononukleus yang ada di organ tersebut. Di sini kuman-kuman berkembang biak dan memperbanyak diri. Setelah periode multiplikasi intraseluler, organisme akan dilepaskan lagi ke dalam aliran darah, terjadi bakteremia kedua, pada saat ini penderita akan mengalami panas tinggi. Bakteremia ini menyebabkan dua kejadian kritis yaitu masuknya kuman tadi terjadi reaksi radang yang hebat sekali maka akan terjadi nekrosis jaringan yang secara klinik ditandai dengan kholesistitis nekrotikans dan perdarahan perforasi usus. Masuknya kuman di kantung empedu dan plaque peyer menyebabkan kultur tinja positif, dan invasi kedalam kandung empedu sendiri dapat menyebabkan terjadinya carrier kronik (Syarurahman, 1994). Semula disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian-eksperimental disimpulkan bahwa endotosemia bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi local pada jaringan tempat Salmonella typhii berkembang biak. Demam pada typhoid disebabkan karena Salmonella typhii dan endotoksinnya merangsang sintesis dan penglepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang (Saunders, 1992; Syarurahman, 1994).
    Perkembangbiakan penyakit demam tifoid dipengaruhi oleh jumlah dan virulensi dari organisme Salmonella serta faktor multiple dari host (Gerald, 1990). Sejumlah besar Salmonella harus masuk ke dalam tubuh untuk menimbulkan penyakit di badan orang sehat. Studi yang telah dilakukan menyatakan bahwa sebanyak 106 – 109 organisme Salmonella typhii harus masuk ke tubuh host guna mengakibatkan infeksi. Meskipun demikian, dalam kasus infeksi yang melibatkan organisme virulen yang tidak biasa atau pasien dalam kondisi penurunan kekebalan tubuh, infeksi simptomatik dapat terjadi cukup dari jumlah organisme yang sedikit (di bawah 106) (Udaya, 1994).

    3 Epidemiologi Demam Tifoid di Indonesia
    Angka kesakitan demam tifoid di Indonesia masih tinggi, yakni berkisar antara 0,7-1% (Slamet, 2001).

    4. Distribusi Demam Tifoid
    a. Berdasarkan Umur
    Umur adalah faktor yang menentukan dari produksi penyakit akibat Salmonella typhii. Insiden demam tifoid tertinggi terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 5 tahun, bayi baru lahir dan bayi yang berumur kurang dari 1 tahun. Pengaruh umur pada insiden demam tifoid akan mencerminkan ketidakmaturan sel humoral dan selluler pada mekanisme imun, mengurangi aksi antibacterial dari flora normal dalam saluran pencernaan, serta meningkatnya frekuensi kontaminasi faecal oral (Gerald, 1990).
    Di daerah endemis demam tifoid, insidensi tertinggi didapatkan pada anak-anak (Cyrill, 1957). Orang dewasa sering mengalami infeksi ringan yang sembuh sendiri dan menjadi kebal. Insidensi pada pasien yang berumur 12 tahun ke atas adalah, 70-80% berumur antara 12-30 tahun, 10-20% antara 30-40 tahun, dan hanya 5-10% di atas 40 tahun (Slamet, 2001).

    b. Berdasarkan Jenis Kelamin
    Tidak ada perbedaan yang nyata antara insidensi demam tifoid pada pria dan wanita (Slamet, 1996). Namun menurut penelitian case control yang dilakukan oleh Albert M. Vollard dkk, diperoleh perbedaan yang signifikan pada angka kejadian demam tifoid berdasarkan umur, yakni dominasi pada jenis kelamin wanita (75%), sedang sisanya sebesar 25% ditempati oleh laki-laki (majalah kedokteran Atmajaya, 2003).

    c. Berdasarkan Geografi
    Demam tifoid terdapat di seluruh dunia dan penyebarannya tidak bergantung pada keadaan iklim, tetapi lebih banyak dijumpai di negara-negara sedang berkembang di daerah tropis. Tercatat sekitar 12,5 juta orang terkena demam tifoid per tahunnya (www.cdc.gov, 1998). Demam tifoid biasa pula ditemukan di sebagian belahan dunia seperti Asia, Afrika dan Amerika Latin, sementara di daerah industri seperti Amerika Serikat, Kanada, Eropa bagian barat, Australia dan Jepang, insiden demam tifoid tidak setinggi seperti pada negara berkembang. Misalnya di Amerika insiden demam tifoid kurang dari 500 orang per tahun atau sekitar 0,2 kasus per 100.000 penduduk pertahun. Beberapa orang dari negara-negara industri tersebut kebanyakan terinfeksi Salmonella typhii akibat menempuh perjalanan ke negara-negara berkembang (www.cdc.gov, 1998).

    d. Berdasarkan Musim
    Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun. Tidak ada kesesuaian faham mengenai pengaruh musim dan peningkatan jumlah kasus demam tifoid. Ada penelitian yang mendapatkan peningkatan pada musim kemarau dan ada pula yang mendapatkan peningkatan pada peralihan antara musim kemarau dan musim hujan (Slamet, 2001).

    5. Manifestasi Klinik Demam Tifoid
    Masa inkubasi demam tifoid berlangsung 10 sampai 14 hari (1-2 minggu), dapat lebih singkat yaitu 3 hari atau lebih panjang selama 2 bulan. Gejala-gejala yang timbul amat bervariasi. Perbedaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di daerah yang sama dari waktu. Selain itu, gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian. Hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat berpengalaman pun dapat mengalami kesulitan untuk membuat diagnosis klinis demam tifoid (Edelman, 1986; Rivai, 1992).
    Keadaan manifestasi klinik yang relatif pada penderita dengan infeksi Salmonella typhii pada dasarnya tetap menunjukkan beberapa gejala klinik yang biasa yaitu antara lain: enterocolitis (gastroenteritis), enteric fever, bakteremia, infeksi setempat dan chronic enteric/urinary carrier state (Gerald, 1990; Wyngaarden, 1992).
    Permulaan infeksi ditandai dengan malaise dan demam yang puncaknya pada sore hari yang secara progresif meningkat setiap hari . Perasaan menggigil yang timbul pada bakteremia ulangan, dapat menyertai puncak demam. Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing, malaise, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisis hanya didapatkan suhu badan meningkat (Saunders, 1992).
    Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae (bintik/ruam klasik pada kulit Rose di sekitar umbilicus) jarang ditemukan pada orang Indonesia. Pada saat ini demamnya bersifat kontinu. Bila tidak diobati, demam akan menetap sampai minggu ketiga dan sering disertai dengan kejang dan kadang-kadang delirium. Juga dapat ditemukan pneumonia, dan infeksi pada ginjal, tulang atau persendian, serta kadang-kadang muncul endokarditis infektif (Syarurahman, 1994; Robins, 1995).
    Berdasarkan penelitian, gejala-gejala dari demam typhoid pada kasus demam typhoid non komplikasi di Unit Rawat Inap SMF IPD RSUD Dr. Moewardi tahun 2004-2005 pada 99 pasien yang menderita demam tifoid menyimpulkan bahwa manifestasi klinis yang timbul pada seluruh penderita demam tifoid berupa demam sebanyak 99 penderita (100%), hal ini sekaligus menempatkan demam sebagai gejala klinis yang paling banyak dirasakan penderita. Secara berturut-turut dibawahnya adalah nyeri kepala sebanyak 49 penderita (49,5%), mual sebanyak 48 penderita (48,5%), lidah kotor sebanyak 32 penderita (32,3%), lemas sebanyak 32 penderita (32,3%), muntah 30 penderita (30,3%), nafsu makan menurun 27 penderita (27,3%, diare 22 penderita (22,2%), batuk 13 penderita (13,1%), tenggorokan kering dan nyeri telan masing-masing sebanyak 6 penderita (6,1%), konstipasi 5 penderita (5,1%), hepatomegali 1 penderita (1%) (Setiawan, 2005).

    Dari penelitian yang dilakukan pada tahun yang berbeda diatas diketahui bahwa Dade County menggunakan 105 pasien sebagai responden, sedangkan Aberdeen dan Stuart dan Pullen menggunakan 507 pasien sebagai responden. Didapatkan bahwa, gejala klinis demam tifoid yang sering muncul adalah demam baik menurut Dade County maupun Stuart dan Pullen sedangkan menurut Aberdeen, demam menduduki urutan kedua setelah sakit kepala. Batuk, nyeri otot, konstipasi, lemah, gatal tenggorokan, terjadi sangat sering pada seri Stuart dan Pullen.

    6. Komplikasi
    Komplikasi demam tifoid dapat terbagi dalam:
    a. Komplikasi intestinal
    1) Perdarahan usus
    2) Perforasi usus
    3) Ileus paralitik
    b. Komplikasi ekstra-iintestinal
    1) Komplikasi kardiovaskuler: Kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis), miokarditis, terombosis dan tromboflebitis.
    2) Komplikasi darah: Anemia hemolitik, trombositopenia dan atau disseminated intravaskular coagulation (DIC) dan sindrom uremia hemolitik.
    3) Komplikasi paru: Pneumonia, empiema dan pleuritis
    4) Komplikasi hepar dan kandung empedu: Abses hepar, hepatitis, kolesistitis
    5) Komplikasi ginjal: Glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis
    6) Komplikasi tulang: Osteomielitis, periostitis, spondilitis, arthritis
    7) Komplikasi neuropsikiatrik: Delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer, sindrom Guillain-Barre, psikosis dan sindrom katatonia
    (Slamet, 2001)

    7. Pencegahan
    Dalam epidemiologi, pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai denagn perjalanan penyakit, yaitu:
    a. Pencegahan primer
    b. Pencegahan sekunder, dan
    c. Pencegahan tersier
    (Budiarto, 2002).

    a. Pencegahan Primer
    Dari gambar tersebut, diketahui tinja dapat langsung mengkontaminasi makanan, minuman, juga air, tanah, serangga (lalat dan kecoa) dan bagian tubuh kita sendiri. Benda-benda yang terkontaminasi tinja dari seseorang yang sudah menderita suatu penyakit akan merupakan penyebab penyakit bagi orang lain (Notoatmodjo, 2003). Untuk menghindarinya, menurut Depkes RI (1997) dapat dilakukan pemutusan mata rantai penularan penyakit melalui kotoran manusia sebagai berikut:
    1) Penggunaan jamban tanpa leher angsa dengan tutup, namun penggunaan jamban jenis ini masih memiliki kelemahan, yaitu menimbulkan bau dan tanpa tutup mungkin masih menarik lalat dimana lalat tersebut dapat mencemari makanan dengan kotoran.
    2) Penggunaan jamban yang dianjurkan adalah jamban dengan leher angsa yang memenuhi persyaratan kesehatan karena dapat mencegah pencemaran air maupun tanah dari kotoran manusia serta mencegah lalat kontak dengan kotoran manusia.
    3) Tangan yang kontak dengan kotoran setelah BAB yang mungkin dapat mencemari makanan atau langsung membawa kotoran ke mulut. Upaya untuk menghindari pencemaran tersebut adalah dengan membiasakan mencuci tangan sesudah BAB dan sebelum menjamah pangan.
    Dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan bersih. Misalnya menjaga kebersihan dan cara makan yang sehat; seperti mencuci tangan sesudah ke toilet, sebelum menyiapkan makanan atau sebelum makan. Selain itu perlu diperhatikan kebersihan lingkungan dan sanitasi, pemakaian air bersih, pembuangan tinja yang memenuhi syarat kesehatan, pembuatan sumur yang memenuhi standar, mencegah makanan terkena lalat, memasak bahan makanan dan minuman dan sebagainya (Sulaiman, 1995).

    b. Pencegahan Sekunder
    Sasaran pencegahan ini terutama ditujukan pada mereka yang menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas). Adapun tujuan usaha pencegahan ini meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah, serta untuk segera mencegah proses penyakit lebih lanjut (Noor, 2000)
    Diagnosis ditegakkan dengan tes serologi dengan menggunakan tes Widal. Dasar tes Widal adalah reaksi aglutinasi antara antigen salmonella tifosa dengan antibodi yang terdapat pada serum penderita. Dari beberapa laporan yang ada tiap rumah sakit mempunyai nilai standar Widal tersendiri, sehingga tes Widal tersebut diharapkan mempunyai nilai diagnostik untuk membantu menegakkan diagnosis. Sebagai contoh di Surabaya, titer Widal ≥ 1/200, Yogyakarta ≥ 1/160, manado ≥ 1/80, dan Jakarta ≥ 1/40 (Rempengan, 1993)

    c. Pencegahan Tersier
    Sasaran pencegahan ini adalah mencegah jangan sampai penderita mengalami cacat atau kelainan permanen, mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian akibat penyakit tersebut. Untuk penyakit demam tifoid, dilakukan suatu upaya rehabilitasi, yaitu usaha pengembalian fugsi fisik, psikologis, dan sosial seoptimal mungkin (Noor, 2000)

    8. Rencana Tindak Lanjut Penanggulangan
    Penanggulangan demam tifoid dititikberatkan pada kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) kepada masyarakat. Selain itu juga usaha yang bersifat suportif untuk mendukung kesembuhan total penderita demam tifoid serta usaha penyediaan fasilitas penunjang higiene dan sanitasi. Rencana tindak lanjut penanggulangan meliputi:
    a. Penyuluhan kepada masyarakat umum akan pentingnya higiene sanitasi perorangan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), yang meliputi:
    1) Cuci Tangan Sebelum Makan (CTSM)
    Cara mencuci tangan yang baik minimal sebanyak 1 kali dengan disertai penggunaan sabun, detergen atau bahan antiseptik lain di kedua tangan lalu digosok sekurang-kurangnya 10 detik untuk mengusir kuman (mikroorganisme), setelah itu bilas. Suhu air tidak begitu penting. Air hangat (sekitar 39oC) berguna untuk menghilangkan lemak. Air panas dapat membunuh kuman namun berbahaya karena dapat melukai tangan. Perhatikan daerah-daerah tertentu seperti sekitar kutikel, di bawah kuku tangan, dan lipatan tangan. Hal ini disebabkan kuman penyakit cenderung berkumpul di daerah-daerah tersebut. Bilaslah agar sabun dapat melarutkan kuman sebanyak mungkin (Wibowo dan Fachri, 2004). Mencuci tangan diperlukan pada saat-saat seperti: sebelum mempersiapkan makanan dan minuman, setelah keluar dari WC/toilet, setelah mengganti popok bayi, setelah bermain dengan binatang piaraan, setelah membuang sampah, setelah menghitung uang, setelah mengeluarkan ingus, atau menutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk, setelah memegang makanan yang tidak dimasak (terutama daging) (Wibowo dan Fachri, 2004).
    2) Pembuangan kotoran manusia yang higienes
    Memperhatikan tempat pembuangan kotoran manusia (latrine, jamban atau kakus), baik secara kualitas, kesesuaian tempat serta pemeliharaannya (Notoatmodjo, 2003). Pembuangan kotoran manusia tidak boleh mengotori air dalam tanah, air permukaan, tanah permukaan, dan tidak boleh terbuka untuk menghindari terjadinya penyebaran “water born disease”. Sehingga jarak sumber air/sumur dengan jamban tidak kurang dari 10 meter (Entjang, 2000). Prinsipnya adalah membuat masyarakat mengerti bahwa tinja yang infeksius merupakan sumber penyakit ini. Kaki lalat dan serangga lainnya yang hinggap pada tinja akan membawa bakteri demam tifoid ke makanan kita. Tindakan yang tepat adalah dengan melakukan pemicuan Community Lead Total Sanitation (CLTS) yaitu memicu rasa jijik dan malu masyarakat terhadap kotorannya sendiri.
    3) Perlunya memperhatikan faktor kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Seperti rutin menjaga semua keadaan ruangan/kamar tetap dalam keadaan bersih, hindari lantai yang basah dan berdebu, menjaga aliran udara (ventilasi) tetap dalam keadaan seimbang. (www.cdc.gov, 1998).
    4) Memperhatikan pembuangan sampah
    Agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia, maka perlu pengaturan, yaitu dengan memperhatikan penyimpanannya, pengumpulan dan pembuangan sampah. Tempat sampah janganlah ditempatkan di dalam rumah atau di pojok dapur, karena akan menjadi gudang makanan bagi tikus-tikus. Tempat sampah sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, tidak mudah rusak, ditempatkan di luar rumah, tertutup rapat sehingga tidak mengundang serangga atau binatang-binatang lainnya (Entjang, 2000).

    b. Penyuluhan hygiene makanan dan minuman
    1) Menjaga kebersihan makanan
    Menghindari konsumsi makanan yang sekiranya mengandung resiko tinggi akan kurangnya kebersihan dalam pengelolaan dengan mengkonsumsi makanan yang telah dimasak dengan proses yang baik serta mengupas dan mencuci terlebih dahulu buah dan sayur mentah sebelum dikonsumsi. Sayur seperti lettuce sangat mudah terkontaminasi dan sangat sulit untuk dicuci. Jika hendak mengkonsumsi buah dan sayur dalam bentuk mentah dan memerlukan pengupasan, diupayakan pengupasan dilakukan sendiri (mencuci tangan dengan sabun terlebih dahulu). Dan tidak memakan kulit dari hasil kupasan tadi.
    2) Mengolah bahan makanan dengan baik
    Mengolah bahan mentah sendiri di rumah daripada membeli bahan makanan matang atau jadi dari warung. Bahan makanan yang dibeli di warung tidak terjamin kualitas kebersihannya karena konsumen tidak mengetahui secara persis proses pembuatan makanan matang di warung, dan juga banyak pedagang yang kurang memperhatikan masalah kebersihan, contohnya untuk mencuci piring, mangkuk atau gelas hanya menggunakan air dalam ember kecil (Riyadi, 2005). lain halnya dengan mengolah bahan makanan sendiri yang dengan jelas dapat diawasi kualitas kebersihannya (www.cdc.gov, 1998).
    3) Tempat memperoleh bahan-bahan makanan
    Memperoleh bahan-bahan makanan berupa bahan mentah dari pasar swalayan. Dengan cara ini penularan demam tifoid dapat diminimalisir sebaik mungkin karena bahan makanan swalayan telah menempuh berbagai proses sebelum disalurkan kepada konsumen, sehingga kualitas kebersihan lebih baik daripada bahan makanan yang diperoleh dari pasar tradisional.

    4) Penyediaan air minum yang memenuhi syarat
    Menghindari air minuman yang sekiranya mengandung resiko tinggi akan kurangnya kebersihan dalam pengolahan. Memisahkan tempat penampungan sumber air baik untuk minum, mandi, memasak, mencuci dan lain-lain untuk menghindari kontaminasi dengan bakteri. Dan untuk mendapatkan air yang layak minum bisa didapatkan dari sumber air yang tidak tercemar dengan bakteri dan terhindar dari binatang penyebar penyakit seperti kecoak, kutu, lalat, nyamuk dan lain-lain (Entjang, 2000). Dan jika hendak minum air, upayakan untuk merebusnya sendiri sampai matang atau jika berada diluar rumah, belilah yang sudah dalam bentuk botol kemasan dengan merek yang sudah terjamin kualitasnya serta memperoleh izin dari Badan POM/Depkes. Botol air dengan karbonasi lebih aman daripada yang tidak berkarbonasi. Diupayakan untuk tidak menggunakan es batu ke dalam air yang akan diminum, jika belum dapat memastikan bahwa es yang akan digunakan telah dimatangkan dengan baik.
    5) Tidak jajan/makan di pinggir jalan raya
    Menghindari/membatasi konsumsi makanan yang dijual di pinggir jalan raya, karena sangatlah sulit menjaga makanan supaya tetap bersih di jalan. (www.cdc.gov, 1998). Menghindari mengkonsumsi jajanan yang dijual di pinggir jalan raya yang sebagian besar tidak ditutup atau dikemas secara aman, kemungkinan besar tercemar timbal (Pb) yang dapat mengakibatkan idiot, infertilitas, keguguran, kelumpuhan, gastrointestinal (kram perut, sembelit, mual, muntah), encephalopathy, gagal ginjal (Sampurno, 2005). Selain itu, juga mengandung bakteri misalnya bakteri E. Coli, bakteri tifus dan kolera (Achmadi, 2005). Mengingat cara penularan demam tifoid sangatlah mudah dan dapat berada dimana saja serta pada waktu yang tidak dapat diprediksi, maka frekuensi makan/jajan di luar rumah yang paling baik adalah tidak pernah namun seringkali kita cenderung enggan memasak sendiri di rumah dan memilih makan di warung. Sebelum melakukannya sebaiknya perhatikan bagaimana kondisi dapur, persediaan air, lap yang kontak dengan makanan, serta kebiasaan penjamah makanan. Terkadang masyarakat malas melakukan pemeriksaan semacam ini dan merasa nyaman asal mereka tidak tahu prosesnya. Prinsip CLTS dapat kita manfaatkan yaitu dengan membangkitkan rasa jijik masyarakat dengan mempraktekkan mencuci piring dengan air yang kotor dan lap kotor di hadapan masyarakat, setelah itu sodorkanlah piring itu untuk tempat makan mereka. Masyarakat yang melihat langsung proses ini pasti tidak akan mau menggunakan piring untuk tempat makan mereka.
    c. Penyuluhan terhadap pelaku industri pangan atau penjamah pangan tentang pentingnya hygiene sanitasi pangan
    Tidak mempekerjakan karyawan yang sedang sakit. Fasilitas sanitasi karyawan juga harus diperhatikan antara lain toilet, tempat cuci tangan dengan sabun, serta kebiasaan buruk dalam bekerja (mengobrol, bersin di hadapan makanan).
    d. Pengawasan dan pembinaan terhadap warung/penjaja pangan/pedagang kaki lima (PKL)
    Pengawasan dan pembinaan dapat dilakukan secara lintas sector yaitu bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi negeri maupun swasta. Pembentukan tim atau kelompok pengawas dengan mengikutsertakan organisasi mahasiswa, pihak perguruan tinggi maupun Lembaga Swadaya Masyarakat yang menaruh perhatian terhadap permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL).

     
  • rofskm 10:52 pm on June 21, 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    SK CPNS PAcitan, Sebuah Penantian…… 

    Sudah 6 bulan berlalu……
    Sejak dinyatakan diterima sebagai CPNS PAcitan Tahun 2009 sampai sekarang, masyarakat yang diterima CPNS (termasuk saya) belum juga menerima SK. Jadi maluu sama tetangga, teman dan kerabat katanya ketrima CPNS tapi kq g berangkat-berangkat, sebenarnya bener ketrima pa g??! Sudah dapat kerjaan tapi nyatanya belum kerja. Mo cari kerja sambil nunggu SK juga nanggung cz takut ntar mendadak ada panggilan SK turun. Sudah nyoba untuk telpon BKD dan datang langsung, jawaban yang diterima adalah sama, yaitu “Sedang dalam proses”. Sebenarnya Ada apa dengan Pacitan?
    Kenapa sih sampai sejauh ini, SK CPNS Pacitan Formasi 2009 kemarin koq belum juga diterimakan ke yang bersangkutan?

    Kepada
    Yth. Bpk BUPATI, tolong mengerti dan pahami kami.
    Mana hak kami setelah dinyatakan lu2s sleksi CPNS Pemda Pacitan…
    Klo masalahnya tinggal tanda tangan, mohon Bapak Bupati berkenan untuk segera menandatanganinya. Bukankah gaji sudah dianggarkan oleh BKD. Lalu apa lagi…????? Qt g dapat gaji 13an juga g pa2. Temen2 sudah banyak yang stres hanya karena nunggu SK.

    Yaa Allah……. Yaa Rabbi…… Yaa Hasbi….
    Berikanlah petunjuk pada kami …….
    Limpahkanlah kesabaran pada kami
    menanti SK Pacitan ini….
    Amin……

     
  • rofskm 10:37 pm on June 21, 2010 Permalink | Balas  

    Hello world! 

    Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

     
    • Mr WordPress 10:37 pm on Juni 21, 2010 Permalink | Balas

      Hi, this is a comment.
      To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal